KESAMAAN NAMA ATAU TEMPAT HANYALAH KEBETULAN BELAKA

Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 28, 2011

Cerita Tragis

Pagi itu,‎ entah mengapa angin terasa lebih dingin dari pada biasanya. Seakan akan menghipnotis dan merayu bujang bujang hingga mereka takmau melepas kemesraan bersama selimut selimut jelita yang menggoda mereka dengan mimpi mimpi indah. Begitu pula halnya dengan Fiad, pemuda itu tersentak dari rayuan angin surganya.
" ala mak, terlambat kiranya aku ni!!!!" gunyamnya seraya bergegas mengganti pakaiyannya.
Tak cukup waktu lama ia telah mengenakan celana sampai kaos oblongnya, tak lama kemudian iapun berlari ke arah motornya setelah memungut rompi reflektor dan helm sefety kuning yang baru saja ia terima kemarin, yang ia terima kemarin saat ia menandatangani surat kontrak kerja sebagai blast hand di sebuah contraktor peledakan. "Jangan lupanya, saudara sekalian besok kami jemput di halte simpang kacang pagi, jam setengah enam!" kata kata itu seakan terus bergema di setiap sisi didalam rongga kepalanya
bagaikan dikejar setan dia menyeret dan menggas motor sogun karatannya. dari tikungan sampai tikungan selanjutnya ia lewati tampa sedetik pun ia menurunkan kenurunkan kecepatan motor bututnya. hingga sampai di jembatan jepang. jembatan tua tersebut sebenarnya sama sekali tak bernama, cuma karena jembatan tersebut selesai di masa penjajahan jepang, maka bernama pula lah akhirnya jembatan itu. namun kononnya disana pula lah tepat serdadu nipon mencelup para pejuang ekstrimis bangsa kita. maka tak mengherankan bila kisah kisah berbau mistik selalu menghiasi jembatan bercat putih tersebut. namun Fiad tetap tak peduli pada puluhan cerita hantu tersebut, dan tetap melaju dengan kecepatan penuh.
ketika ia telah sampai di tengah jembatan tersebut, tiba tiba saja sebuah cahaya melaju kencang ke arahnya. tersentak iapun reflek ia membanting stang motornya ke kiri. namun hal itu membuat motornya terpelanting ke tepi jembatan. pertama tama ia menghantam pilar baja penyangga jembatan, lalu terpelanting lagi hingga jatuh ke sungai, dan tersangkut di tiang jebatan tersebut.
darahnya tak berhenti mengalir dari pahanya yang robek, begitu pula dengan luka di kepalanya, darahnya seakan tak pernah kering, karena langsung larut bersama air sungai. ia pun berteriak minta tolong, panik mengharap ada yang mendengarkannya. namun akhirnya ia pun melemah, kesadarannya pelan pelan hilang, iapun hanyut dan tak pernah ditemukan.

Senin, Maret 08, 2010

Dust on tsuki

Anggap saja ini hanya cerita yang biasa kita anggap omong kosong, tapi entah kenapa aku ingin kisah ini. Jadi hendaklah para pembaca sekalian tidak memperdebatkan kebenaran cerita ini.

Cerita dimulai dimana saat seorang pemuda bangun dari tidurnya, dan sedikit demi sedikit megumpulkan kesadarannya. Ini bukan tidur tapi pingsan, pikirnya. Bahkan dia tak tahu kapan ia mulai tidur, yang ia tahu hari telah larut malam dan perutnya amat lapar. Ia keluar dari kamar kostnya, mencari apa saja yang dapat menahan pembrontakan dalam perutnya itu.

Selankah demi selankah dia telusuri gank kecil penghubung rumahnya kejalan raya. Sekali-kali angin dingin berhenbus dari selatan gank becek itu, tapi itu semua tak menghalangi langkahnya demi menutup rasa lapar, demi sepiring nasi goreng dan segelas teh mawar hangat. Hingga ia melewati sebuah tanah kosong yang berupa rawa-rawa yang ditumbuhi sejenis talas dan berbagai macam kangkung air. Memang dalam sehari hari ia sering melewati tanah kosong tersebut, tapi itu bukan malam hari. Secara geologis tanah kosong tersebut diapit sebuah rumah kosong dan gudang milik wak leman yang meningal di bunuh rampok seminggu sebelumnya, dan meninggalkan semua warisannya termasuk tanah kosong tersebut untuk putranya yang bekerja di sebuah perusahan jepang di mounten view, amerika serikat.

Berbeda dengan geologinya, secara mitologi tanah itu dulunya di anggap sarang para makhluk halus yang kemudian diambil alih seseorang tentra jepang bernama aribeki hiyoshimaru yang kemudian berubah nama menjadi haji ibrahim yoesoef ( bapaknya haji moestafa soelaiman/ wak leman ). Dan kabarnya tanah kosong tersebut masih angker hingga keluarga wak leman tak berani mendirikan bangunan di tengahnya.

Tentu saja ini yang membuat sang pemuda itu sedikit gentar ketika harus melewakinya, sehingga ia mempercepat langkahnya. Jantungnya berdetak kencang ketika tiba tiba ia mendengar langkah kaki mengejarnya, dan menangkap bahunya. Dia pasti pinsan kalao saja tak mendenar " dompemu jatuh nak !". O...ternyata hanya seorang kakek kakek.
" terima kasih kek" katanya dan ia pun meneruskan perjalanan dengan lega. Tapi setelah beberapa langkah ia sadar, mungkin kakek tersebut membutuhkan bantuan, hingga keluar di tengah malam seperti dirinya. Namun ketika ia menengok kebelakang, sudah tidak ada siapa siapa lagi...

The end
Powered By Blogger